Senin, 15 Oktober 2012

Peta Pemikiran dan Gerakan Radikalisme Islam di Indonesia



Teman-teman sekalian. Sore ini saya bersyukur bisa hadir. Terimakasih atas undangannya. Kalau tidak diundang, saya tidak tahu ada sebuah sentra penelitian dan thing-thangyang baru, namanya Rumah Kitab. Dan saya kira keberadaan lembaga ini penting. Untuk kali ini saya diminta menjelaskan tentang peta, dalam hal ini dua peta, yaitu peta pemikiran dan peta gerakan radikalisme Islam di Indonesia. Menjelaskan peta gerakannya saja butuh waktu lama, apalagi ditambah dengan peta pemikiran. Ini adalah tahap pertama untuk mengobservasi akar-akar gerakan radikalisme Islam di Indonesia.

Saya akan memulai menjelaskan gerakannya dulu, bukan pemikirannya. Setelah peta gerakannya sudah jelas (klir), kita akan mudah mencerna kira-kira pemikiran masing-masing kelompok sebagai apa. Tentu disini akan terjadi generalisasi dan simplifikasi yang tidak bisa dihindari.
Pertama, kita akan melihat ciri Islam radikal yang berciri Wahabis-Salafi. Karena ada jaringan Islam radikal yang non-Wahabis dan non-Salafis. Kita mulai dari jenis yang pertama dulu, jenis Islam radikal Wahabis-jihadis. Istilah ini baru muncul kira-kira pertengahan tahun 90-an. Dengan munculnya kelompok-kelompok mujahidin, mereka mengadakan perlawanan ke Sovyet di Afganistan. Wahabi Jihadis adalah istilah yang digunakan dalam menjelaskan Islam Politik. Golongan ini mendambakan pemikiran yang dengan kembalinya ajaran Islam yang paling murni. Dengan kata lain, semangat Wahabi adalah semangat purifikasi, semangat tasfiyyah (pemurnian), totaliter. Jadi isunya adalah menolak tarekat, menolak praktik-praktik sufi, dll. Mereka hendak memerangi penyakit TBC, bukan penyakit bengek atau yang lainnya. Mereka mengartikan TBC sebagai singkatan dari Tahayyul, Bid’ah dan Churafat. Mereka merindukan Islam pada zaman Nabi. Nah kalau merujuk pada sumber ajaran, bagi mereka, harus merujuk pada sumber asli, yaitu al-Quran dan Sunnah. Jadi mereka emoh mebahas dan menganalisa Islam, kitab kuning disingkirkan, dan ijtihad imam madzhab juga dibuang. Harus kembali ke al-Quran dan Sunnah artinya meninggalkan ulama salaf, ulama abad pertengahan. Mereka menolak bermadzhab. Karena apa? Karena bermadzhab bagi mereka akan mengakibatkan taklid buda, menutup pintu ijtihad dan memandekkan berfikir.
Kemudian hal ini mengakibatkan munculnya pemahaman kegamaan yang harakiyyah (pergerakan) yang bersifat literalis. Karena tidak mau menerima budaya lokal, tidak mau dengan gagasan-gagasan dari luar—apalagi dari Barat. Jadi mereka menolak masuknya pemikiran-pemikiran lokal yang mengakibatkan terjadinya TBC. Atau pun menolak gagasan-gagasan dari luar, karena akan mengakibatkan apa yang disebut dengan gagasan-gagasan yang melenceng atau melencengnya pemikiran. Jadi salafi dan wahabi memiliki ciri yang sama, yaitu kekakuan dalam beragama, menunggalkan kebenaran atau klaim kebenaran, tidak bisa menerima terhadap tafsir keagamaan pihak lain dengan mudah melontarkan klaim sebagai tindakan bid’ah dan khurafat. Sehingga menurut mereka bahwa Islam yang benar itu adalah Islam yang sesuai dengan al-Quran dan Hadits ala mereka. Mereka tidak bisa menerima bahwa kebenarnya al-Quran itu interpretable (multi-tafsir). Mereka meyakini kebenaran al-Quran dalam arti harfiyahnya, dan jika ada yang tidak jelas maka tidak boleh ditakwili. Inilah yang mengakibatkan intoleransi, dan ini adalah unsur Wahabis.
Lalu, unsur jihadisnya apa? Unsur jihadisnya adalah semangat dalam membela agama dengan menggunakan cara-cara kekerasan. Mengartikan jihad semata-mata sebagai jihat qatl (peperangan). Tidak ada jihad dalam arti jihad an-nafs (memerangi hawa nafsu), tidak ada jihad dalam arti berdakwah, jihad dengan mencukupi kebutuhan keluarga, yang dianggap oleh kalangan Non-Wahabis sebagai arti jihad dengan melihat dalam hadits-hadits Nabi juga. Akan tetapi menurut mereka, kalangan Wahabis-Jihadis, jihad yang lain itu tidak penting, dan jihad yang sesungguhnya adalah jihad qatl (berperang).
Jihad qatl yang mereka yakini tidak diletakkan dalam aturan fikih. Kita tahu jihad qatl dalam fikih kan ada aturannya. Contoh saja, bahwa di fikih ada syarat-syarat jihad qatl, yaitu ada syarat waku, syarat tempat dan syarat obyek. Syarat obyek qital (berperang) adalah orang kafir yang memerangi kita, kaum muslimin; kafir yang mendahului memerangi kita. Itu syarat obyek. Kalau mereka tidak menyerang, maka kita tidak boleh menyerang.
Lalu siapa yang diperangi? Yang diperangi adalah yang militer. Sedangkan yang SIPIL tidak boleh diperangi. Anak-anak, perempuan dan orang tua tidak boleh diperangi. Itu adalah konsekwensi dari ketentuan bahwa yang tidak menyerang, maka tidak boleh diserang. Yang tidak ikut berperang, maka tidak boleh diperangi. Atau pihak yang menyerah atau melakukan perdamaian juga sudah tidak boleh diperangi lagi.
Kemudian yang kedua, apa yang disebut sebagai jihad gelobal. Kalau dalam aturan fikih itu kan ada masafah al-safar-nya itu terdapat musuh Belanda dalam resolusi Jihadnya Embah Hasyim, maka dialah yang fardlu ‘ain dan yang lain tidak wajib. Yang fardlu ‘ain berperang adalah orang yang tinggal di daerah yang jaraknya masafatul qashri ada musuh yang memerangi. Sedangkan yang lain tidak wajib ‘ain, cuman fardlu kifayah. Jadi musuh yang ada di daerah masafah al-safar itulah yang boleh diperangi. Sedangkan kafir yang berada di luar itu (baca; masafah al-safar) itu tidak boleh diperangi. Jadi ada ketentuan tentang area.
Juga persoalan waktu. Jika musuh sudah menyerah atau melakukan perdamaian, maka tidak seterusnya sampai hari Kiamat dianggap musuh. Jadi jihad menurut Islam salafi-tradisional adalah jihad yang terkendali, sebuah jihad yang tunduk pada aturan yang ketat. Tapi kalau kelompok Wahabi-Jihadis ini tidak demikian. Karena pertama, Sayyid Qutb sebagai ideolog itu dia mengatakan bahwa Surah al-Taubah yang menyatakan bahwa “bunuhlah orang kafir dimanapun engkau temui”. Jadi ayat perintah perang tanpa syarat itu menghapus perintah perang tapi ada syaratnya. Ayat-ayat devensip, yang berisi perintah perang jika diusir dari daerahnya sendiri atau diperangi, dinasah oleh ayat perintah perang yang tanpa syarat tersebut. Ulama lain tidak ada yang berpendapat bahwa perang mutlak menaskh (menghapus) perang yang bersyarat itu.
Kemudian ada interpretasi yang beda. Kalau ada saudara kita, sesama muslim di mana pun berada, sedang diperangi atau berperang atau yang membantu musuh yang memerangi, maka harus dibunuh siapa pun dia. Nah ini yang mengakibatkan jihad gelobal atau jihad semesta itu. Jadi orang kafir dimana pun dan kapan pun harus diperangi dan harus dibunuh.
Kedua, menurut mereka bahwa teror itu boleh. Meneror itu boleh.
Kemudian yang ketiga, umat Islam wajib bergabung dalam perang semesta ini. Yang wajib diperangi bukan hanya orang-orang kafir, akan tetapi juga pemerintah yang tidak menggunakan hukum Allah yang sesuai dengan al-Quran dan Sunnah, bahkan halal darahnya.
Bahkan Sayyid Qutb dilanjutkan oleh Abdullah ‘Azam mengatakan bahwa memerangi dan membunuh musuh yang dekat itu lebih afdlal daripada membunuh musuh yang jauh. Jadi membunuh pemerintahan yang muslim di negeri sendiri yang tidak menegakkan syariat Islam itu lebih diutamakan daripada berperang dengan Amerika. Sampai seperti itu pemahaman kalangan Wahabis-Jihadis. Dan ini adalah tingkat yang paling nyata dan yang paling tinggi dari yang namanya radikalisme agama dalam koteks Islam. Dalam konteks yang lain (baca; agama lain) yang sejenis ini banyak. Karena tradisi radikalisme dan terorisme juga hidup di agama-agama lain.
Nah di Indonesia, yang menggunakan pemahaman Wahabisme plus Jihadis itu adalah Jamaah Islamiyah (JI). Ini yang paling tinggi rekornya, karena radikalismenya ‘aqaidliyyah, fikriyyah dan ‘amaliyyah sekaligus. Jadi mereka sudah mempraktikkan kekerasan terhadap pihak yang dianggap sebagai musuh Islam. Mula-mula ngebom Gereja. Lama-lama ngebom pasar, yang kena ada yang non-Muslim dan yang Muslim juga kena. Lama-lama ngebom Masjid, dan yang kena Muslim saja. Jadi ini berkaitan dengan doktrin yang tadi disebutkan bahwa “musuh yang dekat lebih diutamakan daripada musuh yang jauh”. Karena susah ngebom dan membunuh Obama, atau Hilari Clinton, ya sudah polisi yang ada di Cirebon disikat saja.
Kenapa Cirebon tumbuh subur gerakan radikalisme Islam? Karena sejarahnya panjang juga. Akarnya dari gerakan DITII. Maka itu perlu diteliti juga yah. Coba bisa tidak kita mengkaitkan antara pudarnya pengaruh dan kharisma para kyai seiring dengan maraknya gerakan radikalisme Islam di Cirebon? Misalnya kita bandingkan antara situasi pra dan pasca wafatnya kyai-kyai di Cirebon.
MMI (Majlis Mujahidin Indonesia) adalah pendukung utama JI (Jamaah Islamiyah). Karena pecah, akhirnya muncul lagi JAT (Jamaah Anshar al-Tauhid). Aktor-aktornya sama, hanya mengalami perpecahan saja. Tapi, meskipun mereka terjadi perpecahan, mereka tetap saling tolong-menolong (ta’awanu) juga.
Kelumpok kedua, Wahabis-Islamis-Inkonstitusional. Wahabis kita sudah tahu semua, sama dengan penjelasan di atas ciri-cirinya. Dan Islamis adalah kata yang saya pinjam dari Oliver Roya menggunakan kata ini (Islamis) untuk menyebut kelompok Islam yang menjadikan Islam sebagai ideologi. Dengan kata lain, kelompok yang memiliki cita-cita menegakkan negara Islam sebagai inti dari gerakan mereka. Sedangkan inkostitusional adalah karena mereka tidak mengalami atau melakukan kekerasan dan anarkisme, akan tetapi tidak melalui peraturan resmi pemerintah. Seperti Hizbu Tahrir, meski pun namanya Hizb itu artinya Partai. Hizbu Tahrir Indonesia itu artinya Partai Pembebasan Indonesia. Tapi dia tidak ikut daftar sebagai anggota pemilu. Dia hanya mendaftarkan diri sebagai organisasi sosial. Akan tetapi dia menyerukan pembangkangan terhadap nation-state (negara bangsa), menyerukan pembangkangan terhadap Pancasila, menyerukan pembangkangan terhadap negara ini, mengkafirkan demokrasi dan anak-anaknya. Anak-anaknya demokrasi yaitu pemilu, legislatif, parlemen, pemerintah, dianggap tidak benar sumua dan kafir semua. Oleh karena itu mereka tidak mau masuk kesitu.
Kelompok berikutnya yaitu Wahabis-Islamis-konstitusional. Mereka masuk ke dalam proses-proses politik. Termasuk ke dalam kelompok ini yaitu Ikhwan al-Muslimin, Dakwah Tarbiyyah. Dakwah Tarbiyah berubah menjadi Partai Keadilan (PK). Dan Partai Keadilan berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Usroh adalah salah satu sel-selnya. Mereka ikut dalam proses pemilu. Kalau ada kesempatan, mereka menyeruhkan diterapkannya syariat Islam dan menyeruhkan dikembalikannya tujuh kata dalam Piagam Jakarta. PKS adalah yang paling awal sekali mengumpulkan kelompok-kelompok Islam garis keras. Meskipun dia lari paling duluan.
Kelompok selanjutnya adalah Wahabi fundamentalis atau Wahabi murni. Wahabi yang disebut sebagai yang non-politis. Wahabi yang memaksudkan gerakannya semata-mata demi berdakwah. Berorganisasi malah dianggap bid’ah. Apalagi berbicara tentang isu-isu kenegaraan dianggap sangat bid’ah. Karena kalau politik dan berbicara tentang negara tidak dibid’ahkan maka Raja Arab Saudi itu bisa dikudeta oleh rakyatnya. Oleh karena itu, Wahabi tidak memperbolehkan bermain-main dengan politik, demi menyelamatkan kerajaannya. Jadi ini merupakan proses de-politisasi, sampai mengalir sampai jauh, sampai ke Indonesia.
Ada salah satu faksi yang melenceng dari Wahabi fundamentalis, yaitu Ustadz Ja’far Umar Tholib. Ketika dia membentuk Laskar Jihad dan ikut perang di Ambon. Setelah balik dari Ambon, dia langsung diadili oleh kelompoknya. Karena pertama dia sudah mebuat bid’ah beruapa membentuk organisasi. Kedua, dia melakukan bid’ah karena dia terlibat dalam urusan negara. Akhirnya dia dipecar dari kalangan Wahabi. Para pengikutnya pada lari semua. Karena jatah bantuan dari Arab Saudi, Kuwai dan dari mana-mana diputus semua. Dan mereka kan punya kebutuhan, akhirnya mereka pindah ke kelompok yang dapat memenuhi kebutuhannya. Mereka saling mencari sendiri-sendiri ke kelompok yang berbeda-beda.
Kemudian ada jaringan Islam radikal yang non-Wahabis. Ini Islam radikal yang versi tradisional. Islam Jihadis dari kalangan Darul Islam (DI) yang non-Abu Bakar Baasyir (ABB) dan Abdullah Sungkar (AS).
Kelompok “Islamis”—aku agak ragu juga menyematkan istilah Islamis di sini karena di FPI ada perbedaan-perbedaan juga di dalamnya. Tapi semua organisasi yang bergabung di dalam naungan FPI mensetujui kekerasan dalam bentuk swipping, penyerangan, pembunuhan dan lain sebagainya. Tapi sebetulnya Islamis ini ada dua kelompok, sebagian adalah NII (Negara Islam Indonesia) yang tidak bisa menerima NKRI dan sebagian hanya militan saja tapi masih bisa menerima NKRI. Tapi mereka semua menginginkan formalisasi syariah. Negara Republik Indonesia oke, asalah hukum syariat dijadikan sebagai performa. Itulah FPI—meskipun macam-macam gradasinya. Ini Islamis dengan tanda petik yang mengamini kekerasan.
Kemudian kelompok Islamis-konstitusional. Ini seperti PBB dan sebagian PPP, karena sebagian PPP yang lain masih mencita-citakan Negara Islam—meskipun tidak terlampau ngotot mungkin karena dapat jatah Mentri. PKS juga dulunya begitu. Akan tetapi setelah melihat tidak memungkinkan dan tidak menguntungkan akhirnya lari dari cita-cita awalnya yaitu Negara Islam. PPP masih banyak yang menginginkan mendirikan Negara Islam, seperti PPP di Jawa Barat bagian Selatan. PPP yang dengan kultur DI yang cukup kuat, hampir rata-rata mencita-citakan kebangkitan Negara Islam. Yang paling jelas PPP Pesantrennya Manung Jaya, Pesantrennya Kyai Khayrul Affandi. Putranya kan ada yang PPP. Semangat membangkitkan Negara Islam di sana sangat kuat sekali. Selain itu ada banyak lagi di PPP.
Sekarang kita akan melihat bahwa gerakan Islam radikal di Indonesia mempunyai induk semang. Ada dua induk semang, kalau induk semang lokal adalah DI dan induk semang impor adalah Ikhwanul Muslimin. Kita lihat di Ikhwanul Muslimin ada dua pendekatan. Yang pertama, pendekatan moderat pada masa kepemimpinan Hasan al-Banna di proses-prose awal. Kemudian Hasan al-Hudlaibin, Tilmisani, Muhammad Muhammad Abu Na’im, Nashir Musthafa Masyhur, itu pemimpin-pemimpin mainstream Ikhwanul Muslimin yang radikal-moderat, kira-kira Kanan-Tengah lah ya. Sayap kanan tapi agak sedikit ke tengah. Kalau pemain bola itu kan ada yang jadi sayap yang mainnya di pinggir terus, dan ada yang juga sedikit ke tengah. Nah ini sejenis itu.Sedangkan ideologi yang sangat radikal di Ikhwanul Muslimin itu adalah yang dikembangkan oleh Sayyid Qutb.
Kalau kita lihat sejarah perkembangan awwalnya antara Ikhwanul Muslimin (IM) dengan NU (Nahdlatul Ulama). Ia dilahirkan pada tahun yang hapir sama; NU 1926, dia 1928; di sini (indonesia) sedang dijajah Belanda dan di sana (Mesir) sedang dijajah Inggris dan sedang membela orang-orang Arab yang sedang diusir-usir oleh orang-orang Israel. Berada dalam kondisi memperjuangkan bangsanya, negerinya, kira-kira begitu. NU punya sayap Hizbullah Sabilillah, IM juga punya sayap namanya Tandzlim Sirry. Sayap yang dipersenjatai (musallahah). Hizbullah Sabilillah isinya orang-orang pesantren, lulusan-lulusan pesantren yang dipersenjatai untuk melawan Belanda. Di sana juga sama, Tandzlim Sirry juga dipersenjatai untuk melawan Inggris dan Israel.
Mungkin sama juga, ketika NU bergabung dengan Partai Masyumi. Sebelum merdeka, laskar-laskar santri itu masih terus berperang melawan Belanda. Maka Hizbullah Sabilillah menjadi sayapnya Partai Masyumi, sebagai pasukan bersenjatanya Partai Masyumi. Setelah NU keluar dari Masyumi, Hizbullah Sabilillah sudah terlanjur menjadi badannya Masyumi. Pasca perceraian NU dan Masyumi, Hizbullah Sabilillah tidak bisa lagi kembali ke NU. Akhirnya NU mendirikan BANSER. Tapi BANSER tidak dipersenjatai. Dan Hizbullah Sabilillah sudah tidak lagi NU. Kemudian pada tahun 47-49, mereka dikumpulkan oleh Karto Suwiryo dibikinlah DI. Itu konteks Indonesia.
Mari kita lihat IM. Sayap bersenjatanya itu dipengaruhi dan mengikuti Sayyid Qutb di satu sisi. Dan di sisi yang lain keluatan bersenjata IM selain perang melawan Israel, juga melawan rezim-rezim penguasa di Mesir. Akhirnya kelompok ini sama seperti Hizbullah Sabilillah, tidak menjadi pahlawan negara. Yang tadinya menjadi pembela negeri, menjadi musuh negeri.
Di Indonesia berkembang menjadi pergerakan-pergerakan Tarbiyyah, PK, PKS, KAHMI. Titik temunya apa? Memang kita cukup bukti menemukan eviden (bukti) yang cukup kuat kalau PKS adalah anak ideologisnya IM. Sama seperi IM, Tarbiyah adalah metode untuk membentuk kader IM, dan itu dipake A sampai Z oleh PKS. Jadi metode pengkaderan dan doktrin IM diadopsi persis oleh PKS. Mulai dari sistemnya, isinya, buku rujukannya semua dari Ikhwan. Jangankan merujuk ke pemikirannya Embah Hasyim, Kyai Sahal, Gus Dur, wong pemikirannya Muhammad Natsir saja tidak dirujuk. Selalu rujukannya adalah ulama-ulama IM. Jadi bukunya itu plek IM.
Oleh karena itu, tidak heran kalau PKS sangat-sangat peduli terhadap Palestina. Bukan kepada rakyat Palestinanya, tetapi pada HAMAS yang sama-sama satu Ikhwan. Jadi kalau one man one dollar (satu orang satu dollar) sumbangan dari anggota PKS yang dikirimkan ke Palestina itu bukan untuk rakyat Palestina, tapi untuk HAMAS demi memenuhi kebutuhan logistik mereka. Ini saling berhubungan antara SIZ, HAMAS, Partai Keadilan Pembangunan, Partai Nahdlah, AKP, Partai yang sedang berkuasa, PAS Malaysia dan PKS di Indonesia itu saling berhubungan satu dengan yang lainnya.
Pecahan-pecahan dari organisasi bersenjata itu menjadi Organisasi Pembebasan Islam, Jama’atul Muslimin, dan seterusnya. Dan di Internasionalnya menjelma menjadi Al-Qaidah, di situ ada Ossama Bin Laden dan Ayman al-Dhlawahiri. Ayman al-Dhlawahiri adalah kader Organisasi Pembebasan Islam. Mullah Umar, al-Zarqawi, Syekh Abdullah ‘Azam.
Dan di Indonesia ada Jamiyyah Islamiyyah. Dan Jamiyyah Islamiyyah bubar, menjadi Tandlim Serambi Mekkah, Angkatan Mujahiddin Nusantara (AMIN). Bedanya apa antara AMIN (Angkatan Mujahidin Nusantara) dengan JI yang dalam prosesnya bareng? Kemudian cerai di jalan. Masing-masing mendirikan kelompok sendiri-sendiri. Sama-sama ngebomnya. Jadi begini, pada tahun 1985 terjadi peristiwa apa yang disebut sebagai gerakan Komado Jihad. Komando Jihad ini dikobarkan oleh para pengikut DI. Nah salah satunya yang sangat kenceng menyuarakan adalah Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir. Mereka dua orang ini direkrut oleh Haji Ismail Pran, pang lima dari Karto Suwiryo yang terakhir menyerah. Mereka berdua semula Al-Irsyad, direkrut oleh DI akhirnya Al-Irsyad yang DI. Kemudian ada satu orang lagi namanya Ajengan Masduki. Ajengan Masduki itu kyai kampung dan hafal al-Quran. Memang dia anak buahnya Karto Suwiryo sejak awal.
Ketiga orang itu, Abdullah Sungkar, Abu Bakar Baasyir dan Ajengan Masduki merekrut para pengikut untuk dilatih kemiliteran di perbatasan Pakistan dan Afganistan. Abu Bakar Baasyir dan Abdullah Sungkar merekrut santri-santri dari pesantren Ngeruki, kira-kira 250-an orang. Sementara dari Ajengan Masduki merekrut santri-santri yang Qunut, jadi DI yang Qunut, sekitar merekrut 150-an orang. Gabung belajar bareng di sana (perbatasan Pakistan dan Afganistan). Itu pada tahun 1985-an. Sampai sekitar 13 atau 17 angkatan. Tapi secara keseluruhan sekitar ada 400-an para calon tentara. Mereka tidak direkrut perang di Afganistan. Ada yang diberangkatkan perang itu dikirim oleh GPI (Gerakan Pemuda Islam) yang kantornya dekat dengan kantor Muhammadiyyah. Justru mereka itu yang diberangkatkan dan bergabung dengan font yang berperang di Afganistan. Akan tetapi jangan dibayangkan mereka turut berperang di garis terdepan dengan mengangkat senjata. Ini saya dapat cerita dari salah satu alumninya, dia bercerita bahwa mereka itu kebannyakan dipekerjakan di bagian logistik; masak, menyiapkan senjata, membersihkan senjata, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan logistik. Karena pertama, fisiknya pendek. Kedua, tidak tahan dengan keganasan alam di sana. Meski mereka diajari menggunakan persenjataan untuk sekedar pembelaan diri, dan tidak maju ke medan perang. Jadi yang dibawa oleh Abu Bakar Baasyir dan Abdullah Sungkar itu hanya bekal latihan militer, seperti habis keluar dari AKMI, Angkatan Militer yang ada di Magelang, kira-kira bagitu.
Singkat cerita, pada tahun 1996-an terjadi clash di antara mereka. Abdullah Sungkar wafat. Kendali dibawah Abu Bakar Baasyir. Kelompok Abu Bakar Baasyir slek atau clash dengan kelompok Ajengan Masduki. Karena pertama, kelompok Ajengan Masduki sering dihina dan direndahkan karena Bid’ah dan churafatnya itu. Kedua, soal transparansi anggaran, soal keuangan. Ketiga, kelompoknya Abu Bakar Baasyir sudah berkenalan dengan Moro, dengan Tailand Selatan, tidak ingin pulang ke Indonesia. Mereka ingin mendirikan Daulah Islamiyyah se-Asia Tenggara. Sementara Ajengan Masduki merasa bahwa mereka dikirim ke sini atas biaya DI, karena mereka itu kan agar mendirikan Negara Islam di Indonesia, melanjutkan perjuangan Karto Suwiryo, tidak di tempat lain. Abu Bakar Baasyir mengatakan “saya sudah tidak lagi DI”. Akhirnya dia memunculkan Jamaah Islamiyyah (JI) itu. Sementara pengikutnya Ajengan Masduki pulang ke Indonesia, dan mendirikan AMIN (Angkatan Mujahiddin Nusantara). Mereka itu yang ngebom BCA, ngebom Istiqlal, dan termasuk membacok Pak Matori Abdul Jalil.
Sedangkan JI sebagian ada yang pulang ke Indonesia, ikut terlibat perang di Ambon dan di Poso. Sebagian lagi ada yang ada di Moro dan di Tailand Selatan. Pasca Reformasi, Abu Bakar Baasyir pulang lagi ke Indonesia, karena merasa aman. Sebab pada tahun 85-an itu kan rezim Soeharto, jadi dia takut ke Indonesia. Dan dia mendirikan Majlis Mujahiddin dan memperbesar pesantren Ngeruki-nya itu. Dia mengembangkan Majlis Mujahiddin sehingga ada pengurus-pengurus wilayahnya. Jadi dia bermain di dua kaki, di satu sisi dia mengembangkan Majlis Mujahiddin dan di sisi lain dia mengadakan hubungan dan komunikasi dan menerima bantuan JI. Memang beberapa kali sidang dia lolos. Tapi sidang terakhir, membuktikan dengan sebukti-buktinya bahwa dia terlibat. Dia memang terlibat. Dan pengakuan dari muridnya Abu Bakar Baasyir yang “tobat”, itu menjelaskan peran Abu Bakar Baasyir dalam pembentukan JI dan keterlibatannya dalam pengeboman-pengeboman itu. Kenapa dalam beberapa kali sidang itu Abu Bakar Baasyir lolos terus, karena belum menemukan bukti-bukti yang kuat dalam keterlibatannya itu, dan tokoh-tokoh Islam garis kanan menganggap bahwa itu adalah konspirasi Amerika. Kembali ke konspirasi Amerika. Setelah pelakunya mengakui bahwa “itu adalah kreasi kami”, akhirnya teori konspirasi itu ternayat tidak benar. Ada anggapan itu adalah konspirasi Ameriak lah, konspirasi BIN lah..itu tidak benar. Karena setelah ditemukan bukti dari peristiwa bom dari Mujahiddin wilayah Serambi Mekkah dan pengeboman di Pamulang, akhirnya dengan bukti itulah bahwa Abu Bakar Baasyir terlibat dalam jaringan terorisme itu. Bahkan Hamza Haz nengokin, Amin Rais nengok ke penjara. Tokoh-tokoh itu pada nengokin semua. Sehingga nilai jual politiknya dia itu naik. Sehingga pada saat itu susah sekali.
Nah ini adalah ikatan antara Mujahiddin dan Jamiyah Islamiyah. Terakhir kenapa muncul Jamaah Anshorut Tauhid (JAT). Jadi pada kongkres Jamiyah Islamiyyah di Jogja itu, orang-orang pada meminta dan mendesak Abu Bakar Baassyir mempertanggung jawabkan kepemimpinannya, termasuk masalah keuangannya. Abu Bakar Baasyi tidak mau, dia bilang “Saya hanya bertanggung jawab kepada Allah”. Akhirnya dia dipecat, dimakzulkan oleh anak buahnya. Termasuk anak buah yang paling dekatnya, yaitu Irfan Awwas. JI akhirnya dipimpin oleh Irfan Awwas. Dan Abu Bakar Baasyir keluar, akhirnya mendirikan JAT itu; ideologinya jelas, gerakan dan keterlibatannya semakin keras dalam kegiatan berbagai teror. Orang-orang JAT terlibat gerakan teror.
Hizbu Tahrir (HT) berpusat di Yordania, di London, dan merayap ke Eropa. Di Indonesia ada kepemimpinan ganda; ada yang namanya Hizbut Tahrir Indonesia yang dipegang oleh Ismail Yusanto dan Hizbu Dakwah Indonesia dipegang oleh Muhammad al-Khatthat. Mereka ini, dua orang satu guru satu ilmu. Sebenarnya dua orang ini seharusnya “kuwalat” dengan gurunya. Ceritanya begini, sebetulnya guru yang mengajari mereka tentang Islam dan ke-Hizbu Tahriran itu ada dua orang namanya Abdurrahman al-Baghdadi, orang Lebanon pindah ke Australia, dia di Indonesia difasilitasi oleh namanya Habib Abdullah Bogor, pesantren al-Ghozali. Beliau punya anak namanya Muhammad Musthafa yang juga lulusan dari Yordania. Abdurrahman al-Baghdadi dan Muhammad Musthafa ngajarin mahasiswa-mahasiswa ITB itu, termasuk muridnya itu adalah Ismail Yusanto, Muhammad al-Khatthat, Adian Husaini, dan ada beberapa tokoh-tokoh lain.
Nah pada awalnya sebenarnya Abdurrahman dan M. Musthafa itu tidak setuju Hizbu Tahrir itu membuat organisasi dan menyebarkan ke kalangan luas. Akan tetapi Ismail Yusanto dan Muhammad al-Khatthath mendirikan organisasi dan menyebarkan ke kalangan yang lebih luas. Sebenarnya nama asli dari Muhammad al-Khatthath adalah Gatot. Mereka itu melawan gurunya. Dan gurunya, yaitu M. Musthafa ketemu langsung dengan saya, beliau berkata bahwa saya tidak bertanggung jawab lagi dengan apa yang dilakukan Hizbu Tahrir. Karena dia tidak setuju dengan apa yang menurut dia membelot, dan dia sudah bukan orang Hizbu Tahrir lagi. Dia sudah bertaubat. Dan kenapa saya mendapatkan informasi yang sangat sekret tentang Hizbu Tahrir? Karena saya mendapatkannya dari Muhammad Musthafa, yang sudah tobat dan sekarang menjadi murid Thareqat Naqsabandiyah-nya Kyai Wahab Hafidz. Dan Kyai Wahab Wafidz itu guru saya. Dan sekarang pak Muhammad Musthafa menjadi kyai pesantren al-Ghozali, dan sekarang dia menjadi anggota Suriyah NU Cabang Bogor. Gurunya sudah kembali ke NU. Sedangkan muridnya masih ngotot musuhin NU.
Nah, antara Ismail Yusanto dan Muhammad al-Khatthath ini seumpamanya di pagi hari ada dua Matahari kembar. Tidak saling menyukai. Perseteruan itu memuncak sekitar 2-3 tahunan yang lalu. Muhammad al-Khatthat dipecat dari HTI dan mendirikan HDI (Hizbu Dakwah Indonesia). Kepemimpinan dan struktur HTI itu undergrown (bersifat rahasia di bawah tanah), tidak boleh ada juru bicara. Tidak boleh ada ucapan mengikrarkan bahwa “saya adalah Dewan Syuranya HTI. Karena kalau ada yang nongol, dan ada prahara politik, dan semuanya ditangkan dan dipenjara. Semuanya habis. Saya dengar dari Ismail Yusanto, dia bilang “kalau ada apa-apa paling yang ditangkap saya dan Muhammad al-Khatthath”. Yang lain bagaimana? Dia jawab “aman. Karena kita tidak mempunyai catatan.” Tapi semakin hari semakin banyak cabangnya, dan muncul di permukaan. Jadi Hizbu Tahrir di Indonesia itu sudah keluar dari Pakem. Hizbu Tahrir di mana pun, hatta dimana Hizbu Tahrir dilahirkan di Palestina—Palestina pada waktu itu masih termasuk daerahnya Yordania, di Yordania sendiri Hizbu Tahrir dilarang; di Arab Saudi dilarang; dimana-mana dilarang. Hanya di Indonesia yang memperbolehkan. Cuman membuat struktur organisasi yang aneh berbeda dengan Pakem-Pakemnya Hizbu Tahrir. Sebenarnya termasuk undergrown organizatioun tapi sekarang sudah menjadi organisasi terbuka.
******
Dakwah-Dakwah Salafi sangat banyak sekali. Yang pertama dakwah salafi politik namanya Salafiyyaun Sururiyyun. Gagasan utamanya adalah bagaimana Wahabiyyah bisa digabung dengan Ikhwan. Tokoh-tokohnya adalah Salman al-Auda, Safar al-Hawali, ‘Aidl al-Qarani, dll.
Kedua, salafiyyun al-Albaniyyun. Salafi yang menganut seorang ahli hadits, yaitu Nasiruddin al-Albani. Ada satu cerita, dia memberikan pengakuan di forum yang sangat besar sekali, yang seperti biasanya menganggap hadits ini dlha’if, dla’if, dla’if. Terus ada peserta yang bertanya “Syekh, Anda hafal berapa hadits?” Al-Albani menjawab “Tidak banyak yang saya hafal”. Lima puluh? “Tidak sampe”. Dua puluh? “Tidak sampe”. Sepuluh? “Sekitar itu”. Jadi ahli hadits yang halaf hadits cuma sepuluh hadits. Lalu ada yang bilang, “O ya. Anda menyalah-nyalahkan para ahli hadits yang hafal ribuan hadits. Apa landasan anda menyalahkan-nyalahkan?” Al-Banni menjawab “Saya tidak harus hafal. Sekarang mencontek ke kitab saja bisa”. Sekarang kami tidak percaya kalau Anda adalah seorang ahli hadits. Jadi sebenarnya tidak ahli-ahli betul gitu. Di Mesir saja tidak terlalu dipercaya.   
Ketiga, Salafiyyun Jamiyun (salafi yang beringas). Sangat galak sekali. Tokohnya adalah Syekh Rabi’ al-Madkhali. Sering menyerang ulama dan dai yang bertentangan dengan mereka. Di Indonesia ada Hartono Ahmad Jaiz. Kalau anda lihat buku-bukunya Hartono, pasti isinya menyalah-nyalahkan orang. Semua orang salah. Amin Rais, Cak Nur, apalagi Gus Dur, semuanya disalahkan.
Keempat, Salafiyyun pengikut Syekh Abdurrahman Abdul Khalik dari Kuwait.
Jadi sebenarnya, karena madzhab Salafiyyun itu tidak boleh berorganisasi, tidak boleh tersetruktur. Jadi mereka terpecah-pecah sesuai dengan dana bantuan dan sesuai dengan siapa syekh yang menjadi rujukan. Karena syekh yang menjadi rujukan itu mengumpulkan dana dari orang-orang kaya di Timur Tengah, di Arab, lalu digunakan untuk menyuplay kepada para pengikutnya itu.
Kelima, Salafiyyun pengikut Syekh Abdullah Bin Baz dan Syekh ‘Utsaimin di Saudi Arabiyah. Kalau yang lewat LIPIA di Jakarta ini kebanyakan Abdurrahman Abdul Khalik, Usaimin, Bin Baz, itu dibawah kontrol kerajaan Arab Saudi. Lewat Kedutaan Arab Saudi, lewat Ighatsah Islamiyyah.
Di Indonesia, pertama, ada kelompok Salafiyyun pengikut Abdul Hakim Abdad Yazid Jawwad-Abu Bakar Altway (Jakarta-Bogor). Kelompok ini sekarang mengambil alih DDI. DDI dulu kan dikuasai oleh Ex-Masyumi kan. Lama kelamaan DDI diambil alih oleh kelompok Salafiyyun, dan kelompok yang berlatar belakang Masyumi itu tersingkir. Dia juga mengembangkan Yayasan-Yayasan dan Radio-Radio. Mereka berkiblat ke Kuwait, Syekh Al-Albani, dan Syekh Abdurrahman Abdul Khalik, juga ke Abdullah Bin Baz. Karena Abdul Hakim Abdad itu sebenarnya dia bukan mahasiswa LIPIA begitu, tapi setiap hari dia ada di Perpustakaan LIPIA, kenal dengan dosen-dosennya dan dapat bantuan. Jadi berkiblat ke Arab Saudi juga.
Kemudian, kedua, kelompoknya Ainul Harits, di Surabanya. Dia kakak kelas saya. Mereka berkiblat ke Kuwait, Syekh al-Albani, Syekh Abdurrahman Abdul Khalik.   
Ketiga, Abu Nida, Jogjakarta, yang berkiblat ke Kuwait, Syekh al-Albani, Syekh Abdurrahman Abdul Khalik.
Keempat, Ja’far Umar Thalib dan Umar al-Sewwed di Jogjakarta, yang berkiblat ke Arab Saudi, Syekh Abdullah Bin Baz dan Syekh ‘Utsaimin. Ja’far Umar Thalib sudah dikeluarkan dari kalangan Dakwah Salafi
Kelima, kelompoknya Yusuf Baisa dan Faridl Okbah di Salatiga yang berkiblat ke Salafiyyun Sururiyyun.
Keenam, Majlis Tafsir al-Quran, Sukion, yang berpusat di Solo. Ini kelompok baru. Meskipun kelompok ini tidak terkait langsung dengan Dakwah Salafi, tetapi pikiran-pikirannya sama persis. Namanya Sukion (namanya Jawa sekali. Mestinya dia minta ganti nama ke Gatot, bisa diganti dari Sukion menjadi Syaikhuna,hehe. Gatot saja kan menjadi al-Khatthat).
Sebenarnya di kalangan dakwah salafi, di antara mereka sebenarnya rentan konflik. Karena bagi mereka itu kan perbedaan sedikit saja bisa menjadi serius. Karena watak dari radikalisme dan fundamentalisme itu kan yang sunnah menjadi wajib, yang mubah menjadi sunnah, dan yang wajib menjadi ushul. Jadi mereka mudah sekali menganggap orang lain melenceng; mudah sekali mengkafirkan orang lain. Karena yang furu’ menjadi ushul, dan yang dosa besar menjadi kekafiran. Kembali lagi ke perdebatan kalam tentang orang yang berdosa besar apakah bisa masuk sorga, atau masuk neraka atau tanzilu bayna manzilatayn (tempat di antara surga dan neraka). Nah kalau Khawariz kan berkeyakinan orang yang dosa besar adalah kafir dan masuk neraka. Kira-kira mereka itu berdekatan keyakinan dengan Khawariz.
******
Masalah transmisi, saya punya teori Ummu ar-Radla’ah. Jadi 1). Hizbu Tahrir punya ibu-bapak sendiri namanya Hizbu Tahrir di sana kan (Arab). 2). PKS punya ibu-bapak sendiri namanya Ikwanul Muslimin (IM). 3). Dakwah Salafi punya ibu-bapak sendiri namanya ya imam-imam Wahabi itu seperti Syekh Utsaimin, Abdullah Bin Baz, dan lain sebagainya itu. Tetapi setelah di Indonesia, penyebarannya itu difasilitasi oleh beberapa aktor, yang pertama adalah DDII. Jadi DDII itulah yang menjadi Ummu ar-Radla’ah dari anak-anak tersebut. Meskipun berbeda-beda latarbelakang dan sejarahnya, karena mereka disusui dan dibesarkan oleh DDII maka mereka mempunyai kaitan semuanya dengan DDII.
Ada beberapa gelombang perkembangan DDII. Gelombang pertama, Kembali ke Masjid, Kampus, dan Pesantren. Pada 1968 DDII menyusun program pelatihan yang diperuntukkan bagi  instruktur universitas yang merupakan alumnus berbagai organisasi pelajar Islam. Kegiatan ini diawali dengan melatih 40 instruktur dari kampus ITB, Unpad, dan IKIP Bandung, UGM Yogyakarta dan lain-lain yang digembleng di Asrama Haji Kwitang Jakarta. Para peserta ini direkrut dari -dan berkoordinasi dengan- HMI, PII dan Muhammadiyah. Program ini dikoordinatori oleh KH. E.Z. Muttaqien dengan seorang asisten program yakni Imaduddin Abdurrahim. Jebolan PHI adalah Ahmad Sadali, A.M. Luthfi, Endang Saefuddin Anshari, Rudi Syarif Sumadilaga, Yusuf Amer Faisal, Ahmad Noe’man, Miftah Faridh, Bang Imad dan lain-lain.
Sedangkan pengkaderan ke 2 dilakukan di Pesantren Darul Falah Bogor pimpinan KH. Soleh Iskandar. Pada pengkaderan ini giliran Prof. Dr. Mukti Ali bertindak sebagai project officer dan diasisteni oleh Dr. Sugiat (tokoh Muhammadiyah bidang kesehatan). Pengkaderan ini ditangani langsung oleh para petinggi DDII seperti Pak Natsir sendiri, Mohammad Roem, dan Dr. Rasyidi. Selain tokoh senior tersebut, terdapat tokoh lain sebagai nara sumber antara lain Oesman Ralibi, Zainal Abidin Ahmad, Mukti Ali, Alamsyah Ratu Perwiranegara dan tokoh lainnya.
Pada tahun 1974, Latihan Mujahid Dakwah (LMD) mentoring Imaduddin Abdurrahim. LMD ini lahirlah tokoh-tokoh PKS generasi kedua semisal Mutammimul Ula, Untung Wahono, Tifatul Sembiring dan sebagainya.
Program Bina Masjid Kampus ini, DDII mengusahakan pembangunan masjid di sekitar kampus guna dipakai untuk berbagai aktivitas dakwah. Dari usaha dan pendekatan DDII kepada pihak universitas terbangunlah 15 masjid di dalam kampus atau yang berdekatan dengan kampus. Masjid Arif Rahman Hakim UI Salemba, Masjid Sulatan Alaudin UMI Makassar, Islamic center Al-Quds Padang, Masjid Fatahillah dekat kampus UI Depok, Masjid Al-Hijri Universitas Ibnu Khaldun Bogor, Masjid At-Taqwa IKIP Jakarta, Islamic Center Salahuddin Yogyakarta, Islamic Center Ibrahim Mailim Surakarta, Islamic Center darul Hikmah dekat Unila Lampung, Islamic Center Ruhul Islam Magelang, Masjid Sultan Trenggono Semarang, Masjid Al-Furqon IKIP Bandung, Masjid IKIP Malang, Masjid ITS Surabaya dan Masjid Al-Ghifari IPB Bogor.
DDII menyusun system coordinator wilayah untuk suatu daerah. Misalnya, Yogyakarta dikoordinatori oleh M. Amin Rais, Kuntowijoyo, dan M. Mahyudin; untuk Bandung oleh Ahmad Sadali, Rudi Syarif Sumadilaga, dan Yusuf Amer Faisal; untuk Jakarta oleh M. Daud Ali, dan Nurhay Abdurrahman; untuk Ujung Pandang oleh Halidzi dan Abdurrahman Basalamah; Semarang adalah Kafiz Anwar cs. dan untuk Bogor A.M. Saifuddin dan Abdul Qodir Djaelani. Di masa selanjutnya, bergabung juga beberapa orang dalam tim gerakan dakwah tersebut antara lain Yahya Muhaimin, Douhak Latief, Endang Saifuddin Anshari, M. Nursal dan Husein Umar.
Sejak 1974 hingga 1989 LMD dilakukan sebanyak 71 kali. Aktornya dan mentornya adalah jaringan HMI.
Gelombang Kedua. Berdirinya Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Aktornya adalah mahasiswa alumnus LMD. Muncul jama’ah Usroh. Di Bandung berdiri Jama’ah Salman. Di Jakarta berdiri Masjid ARH. Di Bogor mendirikan Masjid Ghifari. Di Jogyakarta ada Syuhada, Jama’ah Salahuddin dan Mardliyah. Mulai masuk ideologi IM, HTI, NII dan Salafi. Terbentuk jaringan LDK dengan nama Forum Silaturrahmi LDK (pertemuan pertama 1986 di UGM 13 kampus)
Gelombang Ketiga: Purifikasi Ikhwan dan HTI serta Salafi. Terjadi pada 1990an. Transmisi pemikiran Ikhwanul Muslimin, HT dan Salafi  melalui para alumni lembaga pendidikan di Timur Tengah maupun alumnus LIPIA Jakarta. Perpecahan terbuka FS LDK antara Tarbiyah, HTI dan Salafi (pada konggres ke 5 FS LDK di Malang 1998, lahir KAMMI/faksi Tarbiyah). Lahir PKS, HTI dan berbagai kelompok Dakwah Salafi.
Kemudian transformasi Masyumi bermula dari DDII sebagai “ibu susuan” (Ummur Rodlo’ah) bagi PKS, HTI dan Dakwah Salafi. Dilihat dari proses, serta actor-aktor yang berperan penting dalam tiga gerakan ini dapat dikatakan bahwa eksponen “gerakan Islam baru”  ini merupakan transformasi lanjutan dari Masyumi baik dalam arti kultur keagamaan maupun gerakan politiknya. Sebelumnya, kultur Masyumi hidup dan dikembangkan dalam gerakan dakwah DDII, HMI, PII, dan GPI serta PBB dan Partai yang berlabel Masyumi. Awalnya, masih menghimpun berbagai kecenderungan baik yang moderat-inklusif maupun yang radikal-ekslusif. Namun, pasca wafatnya Mohammad Natsir, DDII bergeser ke arah yang semakin ekslusif. Kecenderungan ini pada tahap berikutnya memberi lahan subur bagi DDII untuk memfasilitasi gerakan-gerakan baru yang berbasis ideology yang muncul di Timur Tengah ini. Dengan demikian, gerakan Tarbiyah PKS, HTI dan Dakwah Salafi merupakan perkembangan lebih lanjut dari kultur keagamaan yang puritan dan ekslusif dari Masyumi.
Karena itu kenapa aktor-aktornya itu bukan orang NU akan tetapi dari keluarga Masyumi, Masyumi-Muhammadiyyah, Masyumi-DDII, Masyumi-Al-Irsyad, Masyumi-Persis, dan bukan Masyumi-NU? Karena memang peran trasmisi Timur Tengah kan sangat penting sekali dalam transmisi keislaman ke Indonesia. Sebelum Departemen Agama (baca; Kementrian Agama) punya program menyekolahkan anak-anak Indonesia ke Timur Tengah, terlebih dahulu DDII yang mengambil peran itu lewat lisensi Pak Natsir. Jadi yang diberangkatkan ke Timur Tengah itu ya rata-rata bukan orang NU. Setelah mereka kembali ke Indonesia, mereka berkhidmat dan menjadi ustadz-ustadz DDII, yang akhirnya melahirkan jaringan kedua yaitu Jaringan Dakwah Kampus—termasuk juga KAHMI. Lahirnya Jaringan Dakwah Kampus itu awalnya dari gerakan DDII yang menginginkan kembalinya ke Khittah, yaitu pertama, karena Masyumi sebagai Partai dibubarkan, akhirnya mereka berdakwah dan menfasilitasi pesantren Gontor dan memfasilitasi pesantren Ngeruki.
Kemudian yang kedua, mereka membangun Masjid di berbagai tempat dan di berbagai kampus. Ketiga, membikin pelatihan-pelatihan di kalangan aktivis-aktivis kampus. Dan yang paling penting lagi diketahui adalah DDII lah yang memfasilitasi berdirinya LIPIA dan yang ngebom, yang ketua-ketua PKS, dan non-politik, semuanya itu terkait. LIPIA itu telah melahirkan dari yang radikal sampai yang liberal. Karena yang ngebom dari LIPIA, pimpinan PKS dari LIPIA, dan Jaringan Islam Liberal juga dari LIPIA, Mas Ulil Abshar Abdallah. LIPIA melahirkan Abu Bakar Baasyir, Ja’far Umar Thalib, melahirkan ketau FPI, Habib Riziq, dan juga melahirkan Pak As’ad ketua BIN (Badan Intelijen Negara). LIPIA ini unik memang. Tapi kalau yang punya latar belakang pesantren dan kepesantrenannya itu kuat, dia bisa bertahan.
Bagaimana DDII memfasilitasi Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Dan dari LDK inilah berkembang Ikhwan, berkembang Darul Islam, berkembang HTI, berkembang Dakwah Salafi. Ini yang membenarkan teori saya itu Ummu Radla’ah.
Yang ingin saya kemukakan bahwa tidak ada orang NU yang terlibat dalam teror. Karena memang yang menyusui dan disusui bukan dari kalangan atau kader NU. Yang menyusui adalah DDII dan yang disusui adalah kader-kader Masyumi. Jadi yang terlibat dalam aksi teror itu adalah yang terkena susuan itu. Mereka itu di kampus biasa bertengkar, berbeda kepentingan, rebutan BEM, rebutan Rektor dan lain sebagaimnya. Tetapi ketika menghadapi kita, mereka bersatu. Ketika mereka berhadapan dengan NU, mereka bersatu, karena mereka saudara sepersusuan (Ummu Radla’ah).




Ditulis oleh : Imdadun Rahmat, M.S.I
Post Time :
Tulisan ini ditranskrip oleh Mukti Ali, aktifis Rumah Kitab dan Mahasiswa Pasca-Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dari ceramah ilmiyah M. Imdadun Rahmat, M.S.I, yang disampaikan di Kantor Rumah Kitab Bekasi.

diambil dari sumber

http://www.rumahkitab.com/artikel/3/wawancara/159/peta_pemikiran_dan_gerakan_radikalisme_islam_di_indonesia_1.html
 

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright 2010 BANYAK BACA JADI TAHU, JARANG BACA KURANG TAHU, TIDAK BACA JADI SOK TAHU. All rights reserved.
Themes by Bonard Alfin Blogger Templates - PlayStation Vita - Studio Rekaman - Software Rekaman